EPISTEMOLOGI AGAMA

Epistemologi Agama”
Oleh
Dyanti Febianitri
(1171010018)
AFI/III/B

  Agama dan pengetahuan merupakan kedua hal yang tidak pernah luput dari  setiap perbincangan,   Untuk memahami lebih dalam pembahasan epistemologi agama, harus terlebih dahulu dijelaskan dan didefinisikan  terlebih dahulu apa itu agama dan epistemologi, sehingga dapat diketahui secara baik kedudukan dari epistemologi  dan agama tersebut .
Dalam tulisan ini penulis akan membahas persoalan apa saja prinsip dari agama dan epistemologi, apakah ada pembedaan antara agama dan pengetahuan mengingat banyak nya hal yang tumpang tindih pemahaman mengenai agama dan pengetahuan di kalangan umat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian atau definisi agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Sedangkan, menurut Wikipedia, kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti "tradisi". Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja “re-ligare” yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Namun, menurut kepercayaan Hindu, agama berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata "A" dan "gam". "a" artinya tidak dan "gam" artinya pergi atau bergerak. Jadi kata agama berarti sesuatu yang tidak pergi atau bergerak dan bersifat abadi. Menurut Hindu yang dimaksudkan memiliki sifat abadi (kekal dan tidak berubah-ubah) adalah Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Demikian pula ajaran-ajaran yang diwahyukan-Nya adalah kebenaran abadi yang berlaku selalu, dimana saja dan kapan saja.
Epistemologi, secara etimologis berasal dari bahasa yunani yang berarti pengetahuan sedangkan secara terminologis  diartikan sebagai  cabang filsafat yang mencoba mempelajari pengetahuan serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang di milikinya .Epistemologi merupakan ilmu yang mempertanyakan lima masalah pokok,yaitu: Apakah sebenarnya pengetahuan itu? Dari mana sumbernya atau asal usul pengetahuan? Bagaimana sifat/watak pengetahuan? Apakah pengetahuan menjamin kebenaran? Bagaimana cara mengetahui bahwa pengetahuan kita di katakana benar? Kelima pertanyaan tersebut menjadi pokok masalah yang di kaji dalam Epistemologi .

 Oleh karena itu ,secara umum Epistemologi dapat di mengerti sebagai ilmu yang mempelajari hakekat ,asal usul,cakupan,struktur,serta metode validitas pengetahuan.
 Mengingat banyak nya hal yang tumpang tindih pemahaman di kalangan umat contohnya Pembedaan terhadap agama dan pengetahuan keagamaan muncul dan disuarakan beberapa pemikir Muslim kontemporer, di antaranya adalah Muhammad Sai’d al-Ashmawi, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Abdul Jawwad Yasin.

   Seiring perkembangannya, pemisahan antara ajaran agama dengan ilmu pengetahuan terjadi. Sebagai hasil, beberapa ilmuwan yang mampu menemukan kebenaran secara empiris namun tidak sesuai dengan doktrin agama telah dihukum berat hingga meninggal. Satu peristiwa yang telah pernah terjadi, Galileo yang dihukum gantung. Epistemologinya membuktikan bahwa bumi mengelilingi matahari bukan sebaliknya. Para ilmuwan yang melakukan bantahan terhadap agama terus berlangsung dan akhirnya terjadi pemisahan kekuasaan agama dengan kekuasaan negara. Gereja dibatasi kekuasannya mengenai urusan masalah agama dan selebihnya menjadi kekuasaan negara. Dengan pemisahan tersebut, kekuasaan negara berada diatas kekuasaan gereja. Dengan demikian, negara dapat melakukan inovasi-inovasi terhadap penyelenggaran negara termasuk mengenai pengembangan pemikiran tentang alam dan manusia. Sebagai hasil, agar peristiwa tidak ingin terulang kembali seperti keadaan sebelumnya yang mengutamakan ajaran agama dalam pengembangan keilmuan.

Epistemologi dari tradisi barat akhirnya lebih membebaskan diri dari pemikiran keagamaan atau berada pada paham sekuler. Dengan demikian, keabsahan ilmu pengetahuan berdasarkan pada korespondensi, koherensi dan pragmatisme. Korespondensi memberikan kesesuaian di antara ide dengan kenyataan alam semesta, kebenarannya bersifat empiris-induktif, koherensi mensyaratkan kesesuaian di antara berbagai pernyataan logis, kebenarannya bersifat rasional formal-deduktif. Sedangkan pragmatisme mensyaratkan adanya kriteria instrumental atau kemashalatan, kebenarannya bersifat fungsional. Terlepas dari epistemologi berdasarkan pada tradisi barat ataupun tradisi timur yang membebaskan kepercayaan agama, kedua tradisi tersebut sesungguhnya mengakui kekuasaan lebih tinggi bermula dari agama, sumbernya adalah Tuhan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Semua ajaran agama tidak seluruhnya dapat dianalisis dan ditelaah berdasarkan fakta lapangan dan bukti-bukti empiris. Agama tidak seluruhnya dapat dikaji secara ilmiah oleh karena ajaran agama didasarkan pada wahyu dari Tuhan, bukan berdasarkan hasil penyelidikan keilmuan melalui metode deduktif dan induktif (Qomar, 2005). Lebih lanjut, konsep-konsep agama seringkali bersifat doktriner, tanpa pengujian terlebih dahulu dan tidak dapat diuji. Demi mencapai kebenaran ilmu pengetahuan yang terandalkan, para ilmuan terkadang telah beranggapan bahwa kebenaran ilmu pengetahuan harus dibersihkan dari pengaruh konsep-konsep normatif agama. Karena epistemologinya hanya berusaha mengkaji dan menemukan ciri-ciri umum dan hakiki pengetahuan yang  mengkaji pengandaian dan syarat logis berdasar pada pengetahuan (Tafsir, 2003). Padahal tidak demikian. Perspektif agama yang menghasilkan kitab sebagai pedoman hidup menciptakan konsep kebenaran ilmu pengetahuan tidak hanya berdasarkan tiga prinsip yakni korespondensi, koherensi dan pragmatisme saja, tetapi juga didapatkan melalui akal rasional, dan empiris inderawi (observasi). Ini niscaya didapatkan dan diperkuat melalui petunjuk wahyu melalui kitab suci.

SUMBER
Sorosh, ‘Abdul Karim, Bast} al-Tajribah al-Nabawiyyah, terj. Arab: Ah}mad al-Qobanji, Beirut: al-Intishar al-‘Arabi, 2009.
Rahman, Arif,dkk , Epistemologi Dan Logika filsafat untuk pengembangan pendidikan  ,yogyakarta: Aswaja pressindo, 2014.
Muh Amrih,Spi.uin-alaudin.ac.id, (di akses tanggal 14 1pril 2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISA.-SISA LUKA MARSINAH

pengertian CMS

MENARIKNYA MEMBUAT DESAIN WEB