SISA.-SISA LUKA MARSINAH
SISA-SISA LUKA MARSINAH
Oleh: Dyanti Febianitri
Peringatan hari buruh mengingatkan Indonesia dengan sosok perempuan yang memperjuangkan hak-hak kaum buruh, dialah Marsinah buruh asal nganjuk jawa timur yang begitu berani berupaya melepaskan diri dari jeratan kapitalisme di tempat kerjanya, namun keberanian Marsinah membuat hidupnya harus berakhir secara tragis, nama Marsinah menjadi perhatian luas yang tercatat dalam sejarah Indonesia setelah ia di temukan tewas terbunuh secara tidak wajar.
Dalam tulisan ini penulis akan membahas sekilas riwayat hidup Marsinah dan bagaimana beliau berjuang melawan ketertindasan buruh pada waktu itu sebelum Ia di temukan tewas secara tidak wajar.
Sekilas riwayat hidupnya. Marsinah lahir tanggal 10 April 1969 merupakan Anak kedua dari tiga bersaudara, ibunya bernama Sumini dan ayahnya bernama Mastin. Sejak usia tiga tahun, ibunya Marsinah meninggal sewaktu Marsinah masih bayi. Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya Pu’irah yang tinggal bersama bibinya yang bernama Sini di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Hal tersebut yang menjadikan Marsinah sebagai gadis yang mandiri. Menyadari nenek dan bibinya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan. Marsinah juga sosok gadis yang pintar Semangat belajarnya tinggi dan ia selalu mengukir prestasi dengan peringkat juara kelas. Marsinah memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi, namun Jalan hidupnya menjadi lain, ketika ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kegagalan untuk meneruskan ke perguruan tinggi tidak membuat semangat belajarnya padam.
Marsinah berkeyakinan bahwa pengetahuan itu mampu mengubah nasib seseorang. Oleh karena itu, untuk menambah pengetahuan ia menghimpun rupa-rupa informasi dengan mendengarkan warta berita, baik lewat radio maupun televisi, miinat bacanya pun tinggi.
Berdasarkan dari riwayat hidup Marsinah, penulis melihat bahwa kecintaannya terhadap pengetahuan, membuat ia bisa memperoleh berbagai informasi dari berbagai sumber, termasuk informasi keadaan di lingkungannnya terdapat perilaku ketidakadilan yang membuatnya untuk tidak diam, hal tersebutlah yang menjadikan marsinah berjiwa aktivis. namun lagi-lagi jiwa aktivis tersebut harus membuat ia kehilangan nyawanya ketika melawan kebijakan perusahaan di tempatnya bekerja yang di anggapnya tidak adil, ia bekerja di PT Catur Putera Perkasa (PT CPS) Porong sidoarjo yang merupakan sebuah pabrik arloji .
Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS pabrik tempat kerja Marsinah resah karena ada kabar kenaikan upah menurut Surat Edaran Gubernur Jawa Timur. Dalam surat itu termuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dari upah pokok. Pada minggu-minggu tersebut, Marsinah bersama kawan-kawan buruh PT Catur Putera Perkasa (PT CPS) pada tahun 1993 menuntut kenaikan upah pokok dari Rp1.700 per hari menjadi Rp2.250 perhari, cuti haid, cuti hamil, perhitungan upah lembur, dan pembubaran unit kerja SPSI yang dianggap tidak mewakili kepentingan buruh. Pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para Kepala
Bagian. Sebagian buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk tidak masuk kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.
Marsinah berkontribusi aktif dalam mempersiapkan pemogokan tersebut dan bersikap kritis dalam forum negosiasi antara buruh dan pihak managemen PT. CPS Porong Sidoarjo. Tuntutan yang diutamakan terkait
kenaikan upah sesuai dengan Surat Keputusa Menteri Tenaga Kerja No. 50 Tahun 1992. Tunjangan kesejahteraan sosial juga tercantum dalam daftar tuntutan, seperti cuti hamil, cuti haid, upah lembur, THR, jaminan kesehatan buruh, kenaikkan uang makan dan uang transportasi. Setelah digelar forum negosiasi, pihak pabrik melakukan PHK terhadap tiga belas buruh yang dianggap sebagai dalang pemogokan.
Pada tanggal 5 Mei Marsinah diamankan Ke komando Distrik Miiter (KODIM) Sidoarjo karena di anggap menghasut rekan-rekannya sesama buruh untuk melakukan aksi mogok kerja, malam itu Marsinah menghilang dan mendapat kekerasan oleh TNI karena di nilai melawan aparat. Pada 8 mei 1993 Marsinah di temukan tewas ,mayatnya ditemukan di hutan daerah nganjuk ,jawa timur dalam kondisi mengenaskan. Mayat nya di otopsi oleh Dokter RSUD Nganjuk dan ahli forensik dari Rumah sakit Dr.soetomo, Surabaya. Hasil otopsi di RSUD Nganjuk dan RSUD Dr Soetomo menyebutkan, aktivis dan buruh pabrik PT Catur Putra Surya yang meninggal 8 Mei 1993 ini menemukan adanya tanda-tanda bekas luka penganiayaan berat. Kasus kematian Marsinah ini menarik perhatian pakar forensik Abdul Mun'im Idries. Dalam kasus Marsinah, pakar forensik itu menemukan banyak kejanggalan. Ia menilai visum dari RSUD Nganjuk terlalu sederhana. Hasil visum hanya menyebutkan, Marsinah tewas akibat pendarahan dalam rongga perut. Tidak ditemukan laporan tentang keadaan kepala, leher dan dada korban. Pembuat visum harusnya menyebutkan apa penyebab kematian, apakah karena tusukan, tembakan, atau cekikan? Menurut Mun’im tidak benar jika hanya disebutkan mekanisme kematian, seperti pendarahan, atau mati lemas. Sementara dalam persidangan terungkap Marsinah ditusuk alat vitalnya dalam waktu yang berbeda. Namun dalam laporan hasil visum, hanya ada 1 luka. Kejanggalan lain, kata Mun’im, adanya barang bukti yang dipakai untuk menusuk alat vital korban ternyata lebih besar dari ukuran luka yang sebenarnya. Para petinggi PT.CPS diadili dan sempat di penjara atas kasus Marsinah namun pengacara terdakwa berhasil membebaskannya dengan membuktikan bahwa terdakwa telah di jebak, sehingga para terdakwa pun dinyatakan murni atas segala tuduhan. Hingga kini siapa dalang di balik pembunuhan Marsinah masih menjadi teka-teki besar tidak ada tindak lanjut dari pemerintah mengenai kasus ini.
Meski Jenazah Marsinah sudah di bedah,tapi tidak di jumpai laporan keadaan luka di bagian kepala,leher dan dada korban. Visum dari RSUD Nganjuk sangat sederhana dan hanya satu halaman. Mun’im menyoroti visum kasus Marsinah yang di luar kelaziman “kematian Marsinah selalu ada yang kurang,”tandasnya. Isu kenaikan upah buruh menjadi memanas Semasa Orde Baru, Kasus Marsinah menjadi titik hitam bagi sejarah politik Indonesia tatkala buruh harus dijadikan tumbal ‘kongkalingkong’ antara negara dan pasar. Marsinah menjadi salah satu saksi bisu kejamnya negara dan pasar dalam
membungkam aksi perjuangan kaum buruh di Indonesia tatkala menuntut kenaikan upah sebagai salah satu hak perburuhan. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) saat itu menjadi representasi negara dalam merepresi kaum buruh, sedangkan asosiasi pengusaha menjadi representasi pasar untuk menekan pemerintah.
Kasus Marsinah membangkitkan kesadaran akan pentingnya hak asasi manusia terlepas dari perbedaan status sosial ataupun gender. Marsinah seorang perempuan yang menjadi icon perjuangan buruh, seorang kartini yang di bungkam karena suara-suara dan perjuangannya yang menyisakan kepedihan dalam sejarah buruh Indonesia, luka Marsinah di biarkan menganga tanpa penyelesaian yang jelas. Terlepas dari kasus Marsinah masih banyak para buruh lain yang masih belum mendapatkan kesejahteraan hal tersebut masih berlanjut sampai saat ini dan Tindakan aparat yang represif masih terus saja terjadi mengingatkan kita akan luka Marsinah
Sebagai Penutup penulis menyajikan sebuah puisi Karya Sapardi Djoko Damono. Beliau mengambarkan Marsinah sebagai arloji sejati yang selalu menepati waktu untuk masuk bekerja, ia terus bekerja tanpa henti ”Marsinah Arloji Sejati” Menjadi Sebuah makna keabadian tentang kisah seorang Marsinah. Berikut Puisi tersebut;
Dongeng Marsinah
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)
apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)
“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
( Sapardi Djoko Damono,1993-1996)
DAFTAR PUSTAKA
Idries, Abdul Mun’im. 2013. INDONESIA X-FILES. Jakarta Selatan: Noura Books
Yusuf,Musfirotun. 2011.” Refleksi Tiga Belas Tahun Pejuang Buruh Perempuan Kasus Tragedi Marsinah.” (jurnal MUWAZAH, Vol.3, No.1)
Qurniasari,Iyut,Dkk. 2014. “Konspirasi Politik Dalam Kematian Marsinah di Porong Sidoarjo 1993-1995.”(Jurnal Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Jember Volume 3 No.2 )
Zuhdan,Muhamad. 2014. “Perjuangan Gerakan Buruh Tidak Sekedar Upah
Melacak Perkembangan Isu Gerakan Buruh di Indonesia Pasca Reformasi.” (Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikVolume 17, Nomor 3)
Santosa,Puji.2012 “Marsinah dan Wiji Thukul dalam Kajian Sosiologi dan Sastra.” (Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Volume 8 No.2)
Najwa Sihab & Abdul Mun’im Idris, Marsinah di Mata Najwa, https://youtu.be/5qw_hFrJ-rI, (di Akses pada tanggal 6 Mei 2019 pukul 21.00 WIB)
Oleh: Dyanti Febianitri
Peringatan hari buruh mengingatkan Indonesia dengan sosok perempuan yang memperjuangkan hak-hak kaum buruh, dialah Marsinah buruh asal nganjuk jawa timur yang begitu berani berupaya melepaskan diri dari jeratan kapitalisme di tempat kerjanya, namun keberanian Marsinah membuat hidupnya harus berakhir secara tragis, nama Marsinah menjadi perhatian luas yang tercatat dalam sejarah Indonesia setelah ia di temukan tewas terbunuh secara tidak wajar.
Dalam tulisan ini penulis akan membahas sekilas riwayat hidup Marsinah dan bagaimana beliau berjuang melawan ketertindasan buruh pada waktu itu sebelum Ia di temukan tewas secara tidak wajar.
Sekilas riwayat hidupnya. Marsinah lahir tanggal 10 April 1969 merupakan Anak kedua dari tiga bersaudara, ibunya bernama Sumini dan ayahnya bernama Mastin. Sejak usia tiga tahun, ibunya Marsinah meninggal sewaktu Marsinah masih bayi. Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya Pu’irah yang tinggal bersama bibinya yang bernama Sini di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Hal tersebut yang menjadikan Marsinah sebagai gadis yang mandiri. Menyadari nenek dan bibinya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan. Marsinah juga sosok gadis yang pintar Semangat belajarnya tinggi dan ia selalu mengukir prestasi dengan peringkat juara kelas. Marsinah memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi, namun Jalan hidupnya menjadi lain, ketika ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kegagalan untuk meneruskan ke perguruan tinggi tidak membuat semangat belajarnya padam.
Marsinah berkeyakinan bahwa pengetahuan itu mampu mengubah nasib seseorang. Oleh karena itu, untuk menambah pengetahuan ia menghimpun rupa-rupa informasi dengan mendengarkan warta berita, baik lewat radio maupun televisi, miinat bacanya pun tinggi.
Berdasarkan dari riwayat hidup Marsinah, penulis melihat bahwa kecintaannya terhadap pengetahuan, membuat ia bisa memperoleh berbagai informasi dari berbagai sumber, termasuk informasi keadaan di lingkungannnya terdapat perilaku ketidakadilan yang membuatnya untuk tidak diam, hal tersebutlah yang menjadikan marsinah berjiwa aktivis. namun lagi-lagi jiwa aktivis tersebut harus membuat ia kehilangan nyawanya ketika melawan kebijakan perusahaan di tempatnya bekerja yang di anggapnya tidak adil, ia bekerja di PT Catur Putera Perkasa (PT CPS) Porong sidoarjo yang merupakan sebuah pabrik arloji .
Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS pabrik tempat kerja Marsinah resah karena ada kabar kenaikan upah menurut Surat Edaran Gubernur Jawa Timur. Dalam surat itu termuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dari upah pokok. Pada minggu-minggu tersebut, Marsinah bersama kawan-kawan buruh PT Catur Putera Perkasa (PT CPS) pada tahun 1993 menuntut kenaikan upah pokok dari Rp1.700 per hari menjadi Rp2.250 perhari, cuti haid, cuti hamil, perhitungan upah lembur, dan pembubaran unit kerja SPSI yang dianggap tidak mewakili kepentingan buruh. Pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para Kepala
Bagian. Sebagian buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk tidak masuk kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.
Marsinah berkontribusi aktif dalam mempersiapkan pemogokan tersebut dan bersikap kritis dalam forum negosiasi antara buruh dan pihak managemen PT. CPS Porong Sidoarjo. Tuntutan yang diutamakan terkait
kenaikan upah sesuai dengan Surat Keputusa Menteri Tenaga Kerja No. 50 Tahun 1992. Tunjangan kesejahteraan sosial juga tercantum dalam daftar tuntutan, seperti cuti hamil, cuti haid, upah lembur, THR, jaminan kesehatan buruh, kenaikkan uang makan dan uang transportasi. Setelah digelar forum negosiasi, pihak pabrik melakukan PHK terhadap tiga belas buruh yang dianggap sebagai dalang pemogokan.
Pada tanggal 5 Mei Marsinah diamankan Ke komando Distrik Miiter (KODIM) Sidoarjo karena di anggap menghasut rekan-rekannya sesama buruh untuk melakukan aksi mogok kerja, malam itu Marsinah menghilang dan mendapat kekerasan oleh TNI karena di nilai melawan aparat. Pada 8 mei 1993 Marsinah di temukan tewas ,mayatnya ditemukan di hutan daerah nganjuk ,jawa timur dalam kondisi mengenaskan. Mayat nya di otopsi oleh Dokter RSUD Nganjuk dan ahli forensik dari Rumah sakit Dr.soetomo, Surabaya. Hasil otopsi di RSUD Nganjuk dan RSUD Dr Soetomo menyebutkan, aktivis dan buruh pabrik PT Catur Putra Surya yang meninggal 8 Mei 1993 ini menemukan adanya tanda-tanda bekas luka penganiayaan berat. Kasus kematian Marsinah ini menarik perhatian pakar forensik Abdul Mun'im Idries. Dalam kasus Marsinah, pakar forensik itu menemukan banyak kejanggalan. Ia menilai visum dari RSUD Nganjuk terlalu sederhana. Hasil visum hanya menyebutkan, Marsinah tewas akibat pendarahan dalam rongga perut. Tidak ditemukan laporan tentang keadaan kepala, leher dan dada korban. Pembuat visum harusnya menyebutkan apa penyebab kematian, apakah karena tusukan, tembakan, atau cekikan? Menurut Mun’im tidak benar jika hanya disebutkan mekanisme kematian, seperti pendarahan, atau mati lemas. Sementara dalam persidangan terungkap Marsinah ditusuk alat vitalnya dalam waktu yang berbeda. Namun dalam laporan hasil visum, hanya ada 1 luka. Kejanggalan lain, kata Mun’im, adanya barang bukti yang dipakai untuk menusuk alat vital korban ternyata lebih besar dari ukuran luka yang sebenarnya. Para petinggi PT.CPS diadili dan sempat di penjara atas kasus Marsinah namun pengacara terdakwa berhasil membebaskannya dengan membuktikan bahwa terdakwa telah di jebak, sehingga para terdakwa pun dinyatakan murni atas segala tuduhan. Hingga kini siapa dalang di balik pembunuhan Marsinah masih menjadi teka-teki besar tidak ada tindak lanjut dari pemerintah mengenai kasus ini.
Meski Jenazah Marsinah sudah di bedah,tapi tidak di jumpai laporan keadaan luka di bagian kepala,leher dan dada korban. Visum dari RSUD Nganjuk sangat sederhana dan hanya satu halaman. Mun’im menyoroti visum kasus Marsinah yang di luar kelaziman “kematian Marsinah selalu ada yang kurang,”tandasnya. Isu kenaikan upah buruh menjadi memanas Semasa Orde Baru, Kasus Marsinah menjadi titik hitam bagi sejarah politik Indonesia tatkala buruh harus dijadikan tumbal ‘kongkalingkong’ antara negara dan pasar. Marsinah menjadi salah satu saksi bisu kejamnya negara dan pasar dalam
membungkam aksi perjuangan kaum buruh di Indonesia tatkala menuntut kenaikan upah sebagai salah satu hak perburuhan. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) saat itu menjadi representasi negara dalam merepresi kaum buruh, sedangkan asosiasi pengusaha menjadi representasi pasar untuk menekan pemerintah.
Kasus Marsinah membangkitkan kesadaran akan pentingnya hak asasi manusia terlepas dari perbedaan status sosial ataupun gender. Marsinah seorang perempuan yang menjadi icon perjuangan buruh, seorang kartini yang di bungkam karena suara-suara dan perjuangannya yang menyisakan kepedihan dalam sejarah buruh Indonesia, luka Marsinah di biarkan menganga tanpa penyelesaian yang jelas. Terlepas dari kasus Marsinah masih banyak para buruh lain yang masih belum mendapatkan kesejahteraan hal tersebut masih berlanjut sampai saat ini dan Tindakan aparat yang represif masih terus saja terjadi mengingatkan kita akan luka Marsinah
Sebagai Penutup penulis menyajikan sebuah puisi Karya Sapardi Djoko Damono. Beliau mengambarkan Marsinah sebagai arloji sejati yang selalu menepati waktu untuk masuk bekerja, ia terus bekerja tanpa henti ”Marsinah Arloji Sejati” Menjadi Sebuah makna keabadian tentang kisah seorang Marsinah. Berikut Puisi tersebut;
Dongeng Marsinah
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)
apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)
“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
( Sapardi Djoko Damono,1993-1996)
DAFTAR PUSTAKA
Idries, Abdul Mun’im. 2013. INDONESIA X-FILES. Jakarta Selatan: Noura Books
Yusuf,Musfirotun. 2011.” Refleksi Tiga Belas Tahun Pejuang Buruh Perempuan Kasus Tragedi Marsinah.” (jurnal MUWAZAH, Vol.3, No.1)
Qurniasari,Iyut,Dkk. 2014. “Konspirasi Politik Dalam Kematian Marsinah di Porong Sidoarjo 1993-1995.”(Jurnal Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Jember Volume 3 No.2 )
Zuhdan,Muhamad. 2014. “Perjuangan Gerakan Buruh Tidak Sekedar Upah
Melacak Perkembangan Isu Gerakan Buruh di Indonesia Pasca Reformasi.” (Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikVolume 17, Nomor 3)
Santosa,Puji.2012 “Marsinah dan Wiji Thukul dalam Kajian Sosiologi dan Sastra.” (Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Volume 8 No.2)
Najwa Sihab & Abdul Mun’im Idris, Marsinah di Mata Najwa, https://youtu.be/5qw_hFrJ-rI, (di Akses pada tanggal 6 Mei 2019 pukul 21.00 WIB)
Komentar
Posting Komentar